Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St Yusuf Bangirejo


Warta Lingkungan (27/3/2019).  Pertemuan APP telah memasuki pertemuan yang ketiga, dengan tema "Mewujudkan Komunitas Kasih yang Menyatukan dan Menyempurnakan", peremuan ini dipandu oleh mahasiswi IPAK.

Pada pertemuan ini, umat diajak untuk merenungkan, pakah komunitas atau paguyuban yang ada telah menampakkan diri sebagai komunitas atau paguyuban kasih, dimana umat yang ada didalamnya dapat saling berbagi dan mengembangkan satu dengan yang lain.

Disadari atau tidak, dalam hidup berkomunitas, kita sebagai murid-murid Kristus pun terkadang telah menjadikan pribadi-pribadi tertentu menjadi tersingkir atau memang secara sengaja kita singkirkan. Akhirnya, pribadi-pribadi tersebut tidak terlibat dalam komunitas kita atau tidak muncul bahkan menghilang dari komunitas kita. Pribadi-pribadi macam inilah yang sebenarnya membutuhkan rengkuhan kita bersama. Kasih yang menjadi roh dari hidup kita sebagai murid-murid Kristus semestinya diterjemahkan dengan mau menyapa dan merangkul mereka yang tersingkirkan atau disingkirkan itu.

Inspirasi Kitab Suci

  • Bacaan di atas menyentuh kita untuk menjadi gembala-gembala kecil dalam komunitas dimana kita hidup. Menjadi gembala berarti mau merengkuh siapapun anggota komunitas kita, tanpa pilih kasih. Bahkan gembala mesti mencari anggota komunitas yang tersingkir/disingkirkan oleh komunitas. 
  • Sikap menjadi gembala kecil dalam komunitas ini akan menumbuhkan sukacita bagi komunitas itu sendiri. Mengapa demikian? Jelas, dengan rengkuhan dari gembala itu, bahkan mereka yang tersingkirkan akan merasa bersukacita. Sukacita orang-orang yang disingkirkan itu menjadi sukacita bersama. Mereka yang `ditemukan' oleh gembala itu pun akhirnya mampu terlibat untuk pertumbuhan dan perkembangan komunitas kita. 
  • Maka, orang-orang yang kemudian 'dicap' dalam komunitas jangan kemudian disingkirkan atau diacuhkan. Tindakan ini bukanlah tindakan seorang gembala. Mereka membutuhkan uluran tangan kok ditinggalkan? Gembala mesti membantu mereka yang 'dicap' itu untuk tetap mampu terlibat dalam komunitas. 

Peneguhan 

  • Hidup kita sebagai komunitas murid-murid Kristus itu bukanlah kebetulan tetapi anugerah yang istimewa. Berkat rahmat baptisan yang kita terima, secara cuma-cuma kita disatukan dalam komunitas murid Kristus. Kebersamaan sebagai komunitas murid-murid Tuhan itu mesti dipupuk setiap harinya. 
  • Tantangan yang bisa jadi tidak kita sadari adalah komunitas kita ternyata menimbulkan pribadi-pribadi tertentu merasa disingkirkan atau tersingkir. Kalau tidak cepat kita tanggapi, hal ini pun merugikan kita bukan? Siapa yang mau kehilangan anggota komunitas? Permainan tadi, mau mengajak Anda semua ingat dengan komunitas yang Anda miliki. Kelompok Anda itu adalah komunitas milik Anda. Memang banyak tantangan dan cobaan tetapi rengkuhan satu sama lain itu akan menyelamatkan komunitas kita. Wujud merengkuh itu: tidak pilih-pilih, berkerja sama, sabar, lembah-lembut, murah hati dan berjalan dalam terang Tuhan Yesus (bdk. Kol 3:1-17). 
  • Anda semua dipanggil menjadi gembala-gembal kecil dalam komunitas Anda. Gembala yang mau merengkuh dan mengobarkan anggota komunitas untuk terlibat. Dalam Kol 3:1-17, Anda sebagai gembala mesti mewujudkan kasih dalam komunitas murid-murid Kristus dengan semangat kerendahanhati, kemurahanhati, kesabaran, pengampunan, dan kelemahlembutan. Maukah Anda menjadi gembala-gembala kecil demi komunitas Anda, bahkan mencari yang tersingkir di dalamnya? 
  • Akhirnya, seperti seruan Paus Fransiskus dalam Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium art 114, sebagai anggota gereja kita ikut ambil bagian menjadi tempat di mana kemurahan hati didapatkan cuma-cuma, dimana setiap orang merasa diterima, dicintai, dimaafkan, dan dikuatkan untuk menghayati kehidupan yang baik dari Injil.