"Kita Dipanggil Untuk Melestarikan Lingkungan Hidup", Pertemuan Kedua BKSN di Lingkungan St Yusuf Bangirejo


Pertemuan kedua BKSN bertemakan "Kita Dipanggil Untuk Melestarikan Lingkungan Hidup", dilaksanakan hari Rabu (11/09/2019), dipimpin oleh bapak Markus.

Dalam pertemuan yang kedua ini peserta diajak untuk menyadari bahwa sejak awal mula Allah terlibat secara langsung dalam kehidupan manusia dan segala makhluk ciptaan-Nya, dan potensi kehancuran seluruh ciptaan Tuhan dapat terjadi bila manusia tidak turut serta menjaga dan memeliharanya.  Selain itu peserta diajak juga untuk memahami bahwa Nuh dipanggil oleh Allah un-tuk melestarikan lingkungan hidup.

Sebagai moderator, bapak Markus mengajak umat yang hadir untuk aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat dalam menajwab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh bapak Markus.

Di dalam Pembacaan Kitab Suci (Kej. 6:13-22; 7:11-17) di ceritakan bahwa Nuh adalah seorang bapak keluarga yang melakukan ke-hendak Allah tanpa cacat. Dia berjalan dengan Allah, sehing-ga Allah berkenan kepadanya. Nuh mendapat perintah dari Allah un-tuk membuat bahtera karena Tuhan akan menda-tangkan air bah. Bahtera yang harus dibangun oleh Nuh jauh lebih besar daripada kapal biasa. Bagian dalam dari kapal itu dibagi tiga lantai dan setiap lantai diberi sekat-sekat sehingga dapat me-nampung manusia dan banyak binatang.

Mengingat Allah akan memusnahkan segala makhluk hidup, Nuh harus mempersiapkan ruang-ruang untuk menampung anggota keluarganya dan untuk menampung segala macam binatang. Segala macam binatang harus ditampung berpa-sang-pasangan, baik hewan maupun burung. Nuh juga harus mengumpulkan makanan baik untuk dirinya dan keluarga-nya maupun untuk bintang yang ada di dalam bahteranya. Makanan itu masih sederhana karena pada hari penciptaan Tuhan memberikan kepada manusia biji-bijian dan buah-bu-ahan dan kepada binatang tumbuhan hijau.

Ketika bahtera dan segala sesuatunya telah siap digunakan, ternyata Nuh tidak perlu mencari binatang-binatang itu ber-pasang-pasangan, karena mereka sendiri datang berpasang-pasangan. Tuhan sendirilah yang mendatangkan mereka. Ketika semua keluarga Nuh dan binatang-binatang itu telah berada di dalam bahtera, Tuhan menutup pintunya. Dalam gambaran dunia Yahudi, mula-mula hanya ada air yang pada hari penciptaan Allah memisahkan air atas dan air bawah dan di tengahnya ada dunia. Tingkap-tingkap di langit terbuka se-hingga air dari atas turun dan sumber-sumber di bawah bumi dibuka sehingga air dari bawah juga turut naik lalu meliputi dan meniadakan bumi. Permukaan air semakin lama semakin tinggi; Nuh, keluarganya, dan semua binatang yang tinggal di dalam bahtera itu selamat dari air bah.


Allah menghukum dan meniadakan manusia dan bumi yang penuh kejahatan dan kekerasan, namun Ia juga mencari jalan untuk menyelamatkan orang-orang benar.

Dalam kisah ini Allah tidak hanya menyelamatkan manu-sia tetapi juga seluruh makhluk ciptaan-Nya karena seluruh makhluk ciptaan itu bernilai bagi Allah dan dicintai-Nya.

Nuh adalah model manusia yang menanggapi panggilan Tuhan untuk turut serta melestarikan lingkungan hidup di bumi yang rusak dan terancam punah. Dengan mendengar-kan Tuhan dan melaksanakan firmannya Nuh menjadi saksi karya agung Tuhan menyelamtkan kehidupan.